Ketika Dzikir Berubah Menjadi Strategi Peradaban
Arteesid.com - Bagaimana jika sebuah dzikir Jumat tidak hanya mengajak orang mengingat Tuhan, tetapi juga mengajak menata masa depan? Bagaimana jika dzikir tidak berhenti pada tasbih dan doa, melainkan menjelma menjadi peta jalan kemandirian pangan dan ekonomi?
Itulah suasana yang terasa pada Dzikir Jumat di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin Al-Zaytun, 02 Januari 2026, sebuah momen ketika kata-kata spiritual bertaut erat dengan hitungan hektare, ribuan bibit, dan visi jangka panjang peradaban.
Dari Mimbar ke Lahan: Tahun 2026 sebagai Tahun Usaha Perkebunan
“Tahun 2026 kita awali sebagai tahun usaha perkebunan.”
Kalimat itu meluncur tenang, namun dampaknya jauh ke depan. Dzikir Jumat kali ini tidak sekadar membuka tahun baru secara seremonial, tetapi menandai dimulainya fase serius pembangunan ekonomi berbasis lahan dan lingkungan.
Durian menjadi pintu masuknya. Bukan durian biasa, melainkan durian Duri Hitam komoditas bernilai tinggi yang disiapkan dengan perhitungan matang. Di dalam kampus saja, lebih dari 1.500 pohon telah ditanam, menuju 2.000 dalam waktu dekat. Kampus tak lagi sekadar ruang belajar, tetapi juga laboratorium hidup bagi kemandirian.
Peta Besar: Ribuan Pohon, Puluhan Hektare, Satu Visi
Perkebunan ini tidak berdiri sporadis. Ia dibagi dalam blok-blok strategis. Blok pertama mencakup kampus dan wilayah selatan, dengan potensi hingga 5.000 pohon. Blok kedua di Ciputat dirancang lebih besar, sekitar 10.000 pohon ditanam di lahan 100 ha.. Blok ketiga menyusul di Ciawitali, memanfaatkan lahan puluhan hektare yang mulai dikuasai dan ditata.
Jika seluruh rencana berjalan, total penanaman bisa menembus angka 20.000 pohon, bahkan diarahkan menuju 40.000 dengan dukungan lahan di Garut dan Tasik. Angka-angka ini bukan ambisi kosong, melainkan strategi jangka panjang yang ditargetkan rampung pada 2026, berbuah pada tahun 2029–2030.
Air, Mulsa, dan Disiplin: Ekologi sebagai Kesadaran Dasar
Menariknya, pembicaraan tidak berhenti pada jumlah. Air menjadi perhatian pertama. Setiap lahan ditelisik: adakah sungai, sumber, atau waduk? Kampus, selatan, Ciputat, hingga Ciawitali dipastikan memiliki pasokan air sepanjang tahun. Ekologi bukan tempelan, tetapi fondasi.
Gulma pun ditangani dengan pendekatan modern, yaitu mulsa plastik perak. Fungsinya ganda: menahan rumput liar dan menjaga kelembapan tanah. Dengan cara ini, tenaga manusia tidak terkuras hanya untuk mencangkul, dan tanaman mendapat kondisi tumbuh yang stabil. Inilah disiplin kecil yang menentukan keberhasilan besar.
Kopi dan Durian: Harmoni Rasa, Harmoni Alam
Di sela-sela keseriusan strategi, ada sentuhan humanis yang membuat hadirin tersenyum. Durian, kata Syaykh, punya sahabat: kopi. Di sela pohon durian, kopi akan disisipkan sebagai tumpangsari. Bukan sekadar komoditas tambahan, tetapi simbol harmoni antara yang manis dan pahit, antara makanan dan minuman, antara kerja dan kenikmatan.
“Duri hitam itu bisa dikantongin,” ujarnya, mengundang tawa. Namun di balik humor itu tersimpan keyakinan: kualitas akan mengalahkan kuantitas. Satu butir durian dinikmati bersama, cukup untuk puluhan orang, karena yang dibangun bukan kerakusan, melainkan kebersamaan.
Menjaga Amanah, Menanam Kesabaran
Pesan terakhir mengerucut pada tanggung jawab. Ribuan bibit berarti ribuan amanah. Pengawasan dibagi jelas, lokasi ditata, risiko dipetakan, bahkan kemungkinan “bibit pindah tempat” pun diantisipasi. Semua diajak terlibat, semua diminta menjaga.
Inilah inti dari Dzikir Jumat tersebut: spiritualitas yang membumi, iman yang bekerja, dan doa yang ditanam bersama akar-akar pohon. Tahun 2026 bukan hanya tentang menanam durian, tetapi menanam kesadaran, bahwa masa depan tidak datang dengan sendirinya, ia ditumbuhkan, dirawat, dan diawasi dengan penuh tanggung jawab. (Amri-untuk Indonesia) "Mendidik dan membangun semata-mata untuk beribadah kepada Allah"
Sumber : Lognews






.jpg
)






