Penelitian ungkap peluang besar kakao premium Indonesia masuk pasar global

Arteesid.com - Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemain utama dalam pasar kakao premium global. Meskipun demikian, pengembangan kakao fine flavor nasional masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal kualitas pascapanen yang belum konsisten. Proses fermentasi hingga pengeringan biji kakao sering kali tidak terjaga, sehingga memengaruhi nilai dan daya saing produk.
Sebuah riset terbaru yang dilakukan oleh Asosiasi Cokelat Bean to Bar Indonesia (ACBI) dan Koalisi Ekonomi Membumi menemukan bahwa kakao Indonesia memiliki karakter rasa khas tropis seperti kelapa, pandan, gula palem, dan pisang raja. Karakteristik ini dinilai unik dan jarang ditemui di negara-negara produsen kakao premium lainnya. Temuan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk membangun identitas origin sendiri di pasar global.
Pemetaan yang dilakukan di beberapa daerah seperti Bali, Ende, dan Yogyakarta menunjukkan bahwa permintaan pasar kakao premium mencapai sekitar 185 ton per tahun dan diperkirakan akan terus meningkat. Mayoritas produsen cokelat bean to bar juga menyatakan siap menerima pasokan dari daerah baru selama mutu dan proses produksinya tetap terjaga.
Menurut Peni Agustijanto, anggota Tim Peneliti dan Dewan Pengawas ACBI, tantangan utama saat ini bukan lagi sekadar tentang produksi, melainkan stabilitas kualitas dari hulu hingga hilir. “Pasar menunggu pasokan yang stabil dan bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Peni dalam sebuah media briefing virtual.
Selain itu, produktivitas kebun kakao masih rendah karena tanaman yang sudah tua. Petani juga masih bergantung pada pendamping dan memiliki lahan yang relatif kecil, sehingga kakao belum menjadi komoditas utama penopang pendapatan keluarga.
Untuk mengatasi hal ini, riset tersebut merekomendasikan beberapa langkah penting. Antara lain, percepatan peremajaan kebun dengan bibit unggul, perluasan akses pembiayaan bagi petani, penguatan standardisasi mutu pascapanen, serta peningkatan kemitraan antara petani dan industri cokelat.
Fito Rahdianto, Direktur Eksekutif Koalisi Ekonomi Membumi, menilai pengembangan kakao premium harus diposisikan sebagai bagian dari strategi bioekonomi nasional. Hal ini dapat menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan ekonomi.
Di sisi lain, Normansyah Syahruddin, Direktur Penghimpunan Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kementerian Pertanian, menyebut pemerintah mendukung penguatan ekosistem kakao premium melalui program peremajaan kakao rakyat seluas 174.000 hektare pada tahun ini. BPDP juga telah mengalokasikan pendanaan untuk mendukung sarana dan prasarana pascapanen dan pengolahan kakao.
Beberapa langkah strategis ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas dan kuantitas kakao Indonesia, sehingga semakin kuat bersaing di pasar global. Dengan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam industri kakao premium dunia.
















