Desa Tempur, Permata Wisata Jepara yang Menyatu Alam, Budaya, dan Kuliner

Desa Tempur: Permata Wisata di Lereng Pegunungan Muria

ARTEESID.COM - Desa Tempur, yang terletak di lereng Pegunungan Muria dengan ketinggian antara 800 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut, sering disebut sebagai "negeri di atas awan". Dikelilingi oleh perbukitan hijau, hamparan perkebunan kopi, aliran sungai pegunungan, serta peninggalan sejarah yang masih terjaga, desa ini menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dari destinasi lain di Kabupaten Jepara.

Dengan luas wilayah lebih dari 900 hektare dan sebagian besar berupa lahan pertanian, Tempur memiliki lanskap alam yang membuat setiap sudutnya layak untuk dijelajahi. Wisatawan dapat menikmati berbagai titik pandang yang menyuguhkan panorama perbukitan Muria, hamparan sawah, aliran sungai, hingga perkampungan yang berada di lembah pegunungan.

Salah satu lokasi favorit adalah Bukit Bejagan di Dukuh Duplak yang menawarkan pemandangan alam dari ketinggian. Dari titik ini, pengunjung dapat menyaksikan bentangan perbukitan hijau yang mengelilingi kawasan Tempur. Selain itu, terdapat sejumlah spot wisata alam lain seperti Kaldera Muria, kawasan persawahan Dukuh Petung, hingga berbagai titik pandang yang menghadirkan latar belakang puncak Gunung Muria.

Bagi pencinta aktivitas luar ruang, Tempur juga menawarkan wisata jeep, river tubing, jalur trekking menuju Puncak 29, hingga camping ground yang berada di tengah suasana pegunungan. Salah satu tempat camping yang populer adalah Camping Ground Kopi Tempur di Dukuh Glagah. Di sini tersedia fasilitas tenda sewa, spot foto kedai kopi, pusat oleh-oleh, dan suasana sungai pegunungan. Peminatnya bahkan berasal dari berbagai kabupaten/kota seperti Demak, Rembang, Kudus, dan Pati. Bahkan pernah ada wisatawan dari luar negeri yang datang setelah berlibur di Karimunjawa.

Tradisi yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan Zaman

Tidak hanya menawarkan panorama alam, Tempur juga dikenal sebagai desa yang masih menjaga tradisi leluhur. Berbagai agenda budaya masih rutin dilaksanakan oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari identitas desa. Salah satu tradisi yang terkenal adalah Sedekah Bumi, yang menjadi syukuran masyarakat pegunungan atas hasil bumi dan keberkahan yang diterima selama setahun.

Selain itu, terdapat tradisi Wiwit Kopi yang menandai dimulainya masa panen kopi, serta Kirab Tumpeng yang digelar saat Lebaran Kupat sebagai simbol kebersamaan masyarakat. Tradisi-tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan warga, tetapi juga menarik perhatian wisatawan yang ingin mengenal budaya pegunungan Muria lebih dekat.

Kampung Toleransi di Lereng Muria


Sisi unik Desa Tempur dapat ditemukan di Dukuh Pekosa. Di kawasan ini berdiri dua rumah ibadah yang saling berhadapan, yakni masjid dan gereja yang hanya dipisahkan jarak beberapa meter. Keberadaan dua bangunan tersebut menjadi simbol kerukunan masyarakat yang telah hidup berdampingan selama bertahun-tahun.

Kondisi ini menjadikan Dukuh Pekosa dikenal sebagai Kampung Toleransi, sekaligus menjadi salah satu daya tarik yang sering mengundang rasa penasaran pengunjung dari berbagai daerah. Cerita berdirinya dua bangunan masjid dan gereja saling berhadapan ini cukup panjang. Awalnya masyarakat dukuh tersebut menganut kepercayaan kejawen, kemudian tumbuh agama Kristen, disusul agama Islam. Saat ini sudah ada yang menganut agama Hindu, meskipun belum memiliki tempat ibadah di Tempur.

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

Desa Tempur juga menyimpan kekayaan sejarah yang masih bisa dijumpai hingga sekarang. Di kawasan Dukuh Duplak terdapat sejumlah situs peninggalan kuno seperti Candi Angin, Candi Bubrah, dan Candi Asuh yang menjadi bagian penting dalam sejarah kawasan Pegunungan Muria. Selain candi, terdapat pula sejumlah petilasan dan punden yang hingga kini masih dihormati masyarakat sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah desa.

Belajar dari Kehidupan Desa

Pengalaman wisata di Tempur tidak berhenti pada menikmati pemandangan. Desa ini juga mulai mengembangkan berbagai program wisata edukasi yang memungkinkan pengunjung belajar langsung dari aktivitas masyarakat. Mulai dari budidaya dan pengolahan kopi, pengolahan hasil pertanian lokal, budidaya tanaman hortikultura, hingga pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Melalui berbagai program tersebut, wisatawan dapat mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat pegunungan sekaligus memahami potensi lokal yang berkembang di Desa Tempur. Salah satu program yang sedang dikembangkan adalah edukasi wisata budaya ikan air tawar, yang sudah berhasil panen nila sekali.

Menikmati Cita Rasa Khas Pegunungan Muria

Perjalanan ke Tempur belum lengkap tanpa mencicipi kuliner khas yang menjadi identitas masyarakat setempat. Satu menu yang cukup unik adalah sayur umbut, hidangan berbahan dasar tunas muda pohon pinang liar yang tumbuh di kawasan hutan. Selain itu, terdapat pula olahan ikan sungai dan sayur pakis yang menjadi sajian khas masyarakat pegunungan Muria.

Keunikan bahan baku dan cara pengolahannya menjadikan kuliner Tempur memiliki cita rasa yang berbeda dibandingkan daerah lain. Dengan perpaduan wisata alam, budaya, religi, sejarah, edukasi, dan kuliner, Desa Tempur menawarkan pengalaman wisata yang lengkap dalam satu destinasi. Tak berlebihan jika desa di lereng Muria ini menjadi salah satu permata wisata Jepara yang menyimpan banyak cerita dan selalu menarik untuk dikunjungi kapan saja.

Baca Juga
Posting Komentar