Dokter Bocorkan Alasan Kantong Empedu Harus Dilepas Saat Operasi Batu

Perkembangan Teknologi Bedah Robotik dalam Pengobatan Batu Empedu
ARTEESID.COM - Kemajuan teknologi bedah robotik telah membuka banyak peluang bagi pasien yang membutuhkan prosedur minimal invasif. Salah satu bidang yang mengalami perubahan signifikan adalah pengobatan batu empedu. Namun, meskipun teknologi semakin canggih, masih muncul pertanyaan serupa: mengapa operasi batu empedu hampir selalu diiringi dengan pengangkatan kantong empedu?
Prof. Iswanto Sucandy MD, FACS, Professor of Surgery Division sekaligus Director of Robotic Hepatobiliary Surgery, Digestive Health Institute, AdventHealth Tampa, Florida, Amerika Serikat menjelaskan bahwa prinsip dasar penanganan batu empedu tidak berubah, bahkan dengan adanya teknologi robotik.
"Baik menggunakan robotik maupun tanpa robotik, kantong empedunya tetap diangkat. Yang diangkat bukan hanya batunya," ujarnya dalam seminar publik Mengenal Operasi Robotik pada Saluran Cerna, Hati, Empedu, & Pankreas di RS Mandaya Royal Puri, Jakarta, Minggu (19/7/2026).
Menurut Iswanto, banyak pasien di Amerika Serikat sering bertanya mengapa kantong empedu tidak bisa hanya dibuka dan batunya dikeluarkan, lalu kembali dijahit. Padahal, pada era 1970-an, metode ini pernah digunakan. Hasilnya menunjukkan bahwa banyak pasien kembali mengalami batu empedu dalam waktu enam bulan.
Masalah utama bukan hanya keberadaan batu, melainkan fungsi kantong empedu yang sudah terganggu. Aliran cairan empedu menjadi lambat sehingga mengendap dan kembali membentuk batu. "Kalau hanya batunya yang diambil, kantong empedunya tetap menjadi tempat terbentuknya batu baru. Karena itu terapi yang bersifat definitif adalah mengangkat kantong empedunya," jelasnya.
Dengan kantong empedu diangkat, cairan empedu akan mengalir langsung dari hati ke usus halus, sehingga risiko terbentuknya batu baru menjadi jauh lebih kecil. Iswanto juga menegaskan bahwa batu empedu yang sudah terbentuk tidak dapat dihancurkan dengan obat atau suplemen.
"Banyak suplemen yang mengklaim bisa membersihkan hati atau menghancurkan batu empedu. Faktanya, batu yang sudah terbentuk tidak akan hilang hanya dengan minum obat," katanya.
Ia menambahkan, pola makan sehat dan pengendalian kadar kolesterol tetap penting untuk mengurangi faktor risiko, tetapi tidak dapat menghilangkan batu yang sudah terbentuk. Menurutnya, pembentukan batu empedu bersifat multifaktorial. Selain dipengaruhi kadar kolesterol, kondisi tersebut juga berkaitan dengan faktor metabolisme, fungsi kantong empedu, hingga faktor genetik.
Contoh nyata adalah masyarakat Native American di Amerika Serikat yang memiliki risiko batu empedu lebih tinggi dibandingkan kelompok etnis lain karena karakteristik biologis cairan empedu mereka.
Keuntungan Teknologi Robotik dalam Operasi Batu Empedu
Dalam kesempatan yang sama, Iswanto menjelaskan bahwa teknologi robotik memberikan keuntungan terutama pada kasus batu empedu yang kompleks. Dengan sistem robotik, dokter dapat menangani perdarahan maupun kebocoran saluran empedu dengan presisi lebih tinggi sehingga kemungkinan operasi berubah menjadi operasi terbuka dapat ditekan.
"Keuntungan terbesar robotik adalah menurunkan kemungkinan operasi dikonversi menjadi operasi terbuka," ujarnya.
Menurutnya, semakin kecil sayatan operasi, semakin rendah pula risiko infeksi, nyeri pascaoperasi, serta komplikasi, sehingga pasien umumnya dapat pulih lebih cepat.
Pada seminar tersebut, RS Mandaya Royal Puri juga memperkenalkan sistem bedah robotik generasi terbaru yang akan digunakan untuk berbagai operasi kompleks. Co-Founder dan President Director Mandaya Hospital Group, dr. Benedictus R. Widaja, MBChB (UK), mengatakan teknologi tersebut dikendalikan sepenuhnya oleh dokter melalui konsol dengan visualisasi tiga dimensi (3D) beresolusi tinggi.
"Teknologi ini tidak menggantikan peran dokter, tetapi membantu meningkatkan presisi gerakan, menyaring getaran halus tangan, serta memudahkan tindakan pada area tubuh yang sempit dan kompleks," kata Benedictus.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi robotik diharapkan dapat meningkatkan akurasi tindakan bedah sekaligus memberikan manfaat bagi pasien melalui prosedur yang lebih minimal invasif, risiko komplikasi lebih rendah, dan masa pemulihan yang lebih cepat.

















