Hobi Makan Manis Picu Kanker Endometrium, Bukan Hanya Diabetes

Kanker Endometrium: Bahaya dari Pola Makan Tinggi Gula dan Obesitas
ARTEESID.COM - Kesehatan reproduksi perempuan sering kali diabaikan, meski risiko penyakit yang terkait dengan sistem hormonal bisa sangat berbahaya. Salah satu ancaman yang kini semakin meningkat adalah kanker endometrium, atau kanker yang tumbuh pada lapisan dalam rahim. Penyebab utamanya tidak hanya terletak pada faktor genetik, tetapi juga pada gaya hidup modern yang sering kali melibatkan pola makan tinggi gula dan kebiasaan sedentari.
Pola Makan Tinggi Gula Bisa Memengaruhi Hormon Estrogen
Dr. Renny Anggia Julianti, Sp.OG, Subsp.Onk., seorang dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi di RS Pondok Indah Bintaro Jaya, menjelaskan bahwa lapisan endometrium sangat sensitif terhadap hormon estrogen. Ketika kadar hormon ini terus meningkat tanpa diimbangi oleh hormon lain, lapisan tersebut akan terus menebal. Jika kondisi ini berlangsung bertahun-tahun, sel-sel normal berisiko berubah menjadi sel ganas.
Menurutnya, salah satu pemicu utama adalah berat badan berlebih. Sel lemak bukan hanya menyimpan cadangan energi, tetapi juga dapat menghasilkan hormon estrogen. Akibatnya, perempuan dengan berat badan berlebih memiliki potensi tinggi untuk memiliki kadar estrogen yang lebih tinggi, sehingga lapisan endometrium terus mendapat rangsangan untuk tumbuh.
Perubahan Siklus Haid dan Risiko Kanker
Selain berat badan, pola makan tinggi gula dan karbohidrat olahan juga berpengaruh terhadap keseimbangan hormon. Dr. Renny mencontohkan, kenaikan berat badan dalam waktu singkat sering kali diikuti perubahan siklus menstruasi. Hal ini terjadi karena hormon yang mengatur menstruasi ikut terganggu.
Ketika endometrium terus menebal tanpa mengalami peluruhan secara normal, lama-kelamaan sel-selnya dapat mengalami perubahan. "Ternyata sel biasa tapi gara-gara sering dikasih distimulasi ya sama hormon, lama-lama dia jadi berubah jadi sel yang ganas gitu," ujarnya.
Makanan seperti kue, donat, pastry, mi, hingga makanan tinggi tepung memang menggugah selera, tetapi bila dikonsumsi berlebihan dan tidak diimbangi aktivitas fisik, dampaknya tidak hanya terlihat pada angka timbangan, tetapi juga pada kesehatan organ reproduksi.
Diabetes dan Hipertensi Juga Berkontribusi
Tidak hanya obesitas, perempuan dengan diabetes, hipertensi, maupun sindrom metabolik juga perlu lebih waspada. Menurut dr. Renny, diabetes memiliki hubungan yang cukup kuat dengan kanker endometrium. Bahkan, pada penderita diabetes, risiko terkena kanker endometrium bisa meningkat hingga empat sampai lima kali lipat dibandingkan mereka yang tidak mengidap penyakit tersebut.
Selain itu, perempuan yang mengalami gangguan kesuburan atau infertilitas juga memiliki risiko lebih tinggi karena umumnya berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon. Faktor genetik juga dapat berperan, meski jumlah kasusnya relatif lebih sedikit.
Langkah Pencegahan dengan Gaya Hidup Sehat
Meski sejumlah faktor risiko tidak dapat diubah, dr. Renny menekankan bahwa gaya hidup sehat tetap menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko kanker endometrium. Ia menyarankan masyarakat menjaga berat badan tetap ideal, rutin berolahraga, serta memperbanyak konsumsi makanan tinggi serat.
Serat membantu tubuh mengontrol kadar gula darah sekaligus membuat rasa kenyang bertahan lebih lama sehingga dapat mengurangi konsumsi makanan berlebihan. "Makanan dan olahraga itu sebenarnya menyeimbangkan si hormon itu sendiri, membuat otot lebih bekerja, gulanya lebih dipakai di badan, jadinya hormon estrogennya tidak sebanyak kalau kita tepung terus, kira-kira gitu," tambahnya.
Selain itu, penderita diabetes juga dianjurkan menjaga kadar gula darah tetap terkontrol agar risiko komplikasi, termasuk kanker endometrium, dapat ditekan.
Pentingnya Perawatan Dini dan Kesadaran Masyarakat
Bagi dr. Renny, menjaga pola makan dan tetap aktif bergerak bukan hanya penting untuk kesehatan secara umum, tetapi juga menjadi salah satu cara melindungi kesehatan rahim sejak usia muda. Kesadaran akan bahaya kanker endometrium harus terus ditingkatkan, terutama bagi perempuan yang memiliki faktor risiko seperti obesitas, diabetes, atau sindrom metabolik.
Dengan perubahan gaya hidup yang lebih sehat, risiko kanker endometrium dapat diminimalisir, sehingga kesehatan reproduksi perempuan dapat terjaga lebih baik di masa depan.

















