Gua Panggung Pangandaran, Jejak Karst dan Legenda Lautan

 

Sumber Gambar : Detik

Gua Panggung di TWA Pananjung Pangandaran: Keajaiban Alam dan Warisan Budaya

ARTEESID.COM - Gua Panggung yang terletak di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Pananjung Pangandaran, Jawa Barat, bukan hanya sekadar bentuk alam karst yang indah. Di dalamnya tersimpan kekayaan geologi, nilai sejarah, serta tradisi spiritual yang masih dipercaya oleh masyarakat setempat hingga saat ini.

Gua ini memiliki panjang sekitar 61 meter dengan tinggi sekitar 5 meter dan lebar 17 meter. Gua berbentuk ceruk ini menembus bukit batu gamping hingga berujung di kawasan Pantai Timur Pangandaran. Di dalam gua, pengunjung dapat melihat stalaktit dan stalagmit yang terus dialiri tetesan air dari sela batu kapur. Suara tetesan air dari stalaktit sering terdengar, dan aroma khusus tercium bagi yang memasuki gua tersebut.

Memasuki lorong gua, suasana menjadi lebih sejuk dan lembap. Cahaya matahari hanya masuk dari kedua sisi bukaan. Dari satu ujung, pengunjung dapat melihat Pantai Pasir Putih dan deretan perahu nelayan, sementara sisi lainnya mengarah ke bentang Samudra Hindia. Namun, daya tarik Gua Panggung tidak hanya terletak pada keindahan geologinya saja.

Di dalam gua, terdapat sekitar 10 anak tangga yang menuju sebuah makam yang dibungkus kain hijau dan dilengkapi payung tradisional. Makam ini diyakini sebagai tempat peristirahatan Embah Jaga Lautan atau yang juga dikenal sebagai Kyai Pancing Benar. Menurut informasi yang diperoleh, banyak masyarakat yang datang untuk berziarah ke sini, baik secara individu maupun dalam rombongan.

Sejarah dan Legenda Mengenai Embah Jaga Lautan

Menurut versi masyarakat, Embah Jaga Lautan dipercaya sebagai putra angkat Nyi Roro Kidul yang diberi tugas untuk menjaga lautan, terutama pesisir Jawa Barat. Ada juga kisah yang menyebut bahwa ia berasal dari Mesir dan datang ke Nusantara untuk menyebarkan agama Islam. Ia diceritakan memiliki tujuh istri dan dikenal sebagai sosok yang gemar memancing.

Salah satu kisah menyebut bahwa ia pernah mendapatkan ikan yang disebut ikan Topel menggunakan pancing berbentuk lurus. Setelah peristiwa itu, ketujuh istrinya yang sebelumnya kerap bertengkar disebut kembali hidup rukun. Dari kisah itulah, masyarakat kemudian mengenalnya dengan sebutan Kyai Pancing Benar.

Kepercayaan terhadap kisah itu masih bertahan hingga kini. Sebagian masyarakat masih mencari ikan Topel karena diyakini memiliki khasiat tertentu.

Asal Usul Nama Gua Panggung

Mengenai asal usul nama Gua Panggung, terdapat beberapa versi. Salah satunya menyebut bahwa di dalam gua terdapat tempat menyerupai panggung yang dahulu digunakan untuk sembahyang para wali atau orang yang hendak menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Versi lain menyebut nama Gua Panggung berkaitan dengan posisi makam yang berada di bagian atas gua dan menyerupai panggung.

Pengelolaan Kawasan TWA Pananjung Pangandaran

Kawasan TWA Pananjung Pangandaran dikelola oleh BBKSDA Jawa Barat sebagai zona pemanfaatan wisata. Luas kawasan ini sekitar 34–37 hektare dan berhimpitan langsung dengan Cagar Alam Pangandaran. Pengelolaan kawasan ini dilakukan di bawah pengawasan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Anggota Staf Resor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah XXI Pangandaran, Hadiat Kelsaba, menjelaskan bahwa makam tersebut masih menjadi tempat ziarah bagi sebagian masyarakat. "Masih ada yang datang berziarah ke sini. Ada yang datang sendiri, ada juga rombongan," katanya.

Gua Panggung sebagai Ruang Pertemuan Budaya dan Alam

Terlepas dari berbagai versi cerita yang berkembang, Gua Panggung menjadi satu ruang yang mempertemukan kekayaan alam karst dengan warisan budaya dan kepercayaan masyarakat Pangandaran. Keunikan gua ini membuatnya menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik bagi pengunjung.


Baca Juga
Posting Komentar