Ciri-ciri urine orang yang ginjalnya bermasalah
ARTEESID.COM - Urine sering dianggap sebagai limbah tubuh. Faktanya, urine bisa mencerminkan kesehatan ginjal. Ginjal terus menyaring darah, membuang zat sisa dan kelebihan cairan melalui urine. Ketika fungsi atau struktur ginjal terganggu, ini kadang bisa terlihat dari buang air kecil.
Meski demikian, tidak ada satu warna atau bentuk urine yang bisa memastikan seseorang mengalami penyakit ginjal. Penyakit ginjal kronis (PGK) pada tahap awal bahkan sering tidak menimbulkan gejala sama sekali. Banyak orang baru mengetahuinya setelah melakukan pemeriksaan darah dan urine.
Lalu, perubahan urine seperti apa yang patut diperhatikan? Berikut ini ciri-cirinya.
1. Urine berbusa yang terus muncul
Beberapa gelembung setelah buang air kecil masih bisa normal, terutama jika aliran urine cukup deras. Yang lebih perlu diperhatikan adalah busa yang muncul berulang kali, cukup banyak, dan tidak cepat menghilang.
Salah satu penyebabnya adalah protein yang bocor ke dalam urine (proteinuria). Ginjal yang sehat biasanya mempertahankan albumin, salah satu protein darah, agar tidak ikut keluar melalui urine. Kerusakan pada sistem penyaringan ginjal dapat membuat albumin lolos.
Namun, urine berbusa tidak selalu berarti ginjal rusak. Sebuah studi terhadap pasien yang datang dengan keluhan urine berbusa menemukan hanya sekitar 22 persen memiliki proteinuria yang jelas, sementara sekitar 32 persen dari kelompok yang menjalani pemeriksaan lebih lengkap mengalami albuminuria atau proteinuria.
Tinjauan lain juga menyebut hanya sekitar sepertiga orang yang mengeluhkan urine berbusa ditemukan memiliki proteinuria abnormal.
Jadi, jika kamu mengalami urine berbusa terus-menerus, sebaiknya pertimbangkan untuk menjalani tes urine.
2. Urine berwarna merah muda, merah, atau kecokelatan
Darah dalam urine disebut hematuria. Jika jumlahnya cukup banyak, urine dapat terlihat merah muda, merah, atau cokelat. Namun, hematuria bisa sama sekali tidak mengubah warna urine dan cuma terlihat melalui pemeriksaan laboratorium.
Hematuria dapat muncul pada penyakit yang mengenai glomerulus, yaitu unit penyaring kecil di ginjal. Tinjauan ilmiah pada 2026 menunjukkan bahwa hematuria persisten pada sejumlah penyakit glomerulus juga berkaitan dengan risiko lebih tinggi mengalami penurunan fungsi ginjal.
Meski begitu, darah dalam urine bukan tanda khusus penyakit ginjal. Ini bisa juga disebabkan oleh infeksi saluran kemih, batu ginjal, pembesaran prostat, olahraga berat, trauma, hingga kanker pada saluran kemih.
Karena itu, urine yang terlihat berdarah perlu diperiksa meski tidak terasa sakit.
3. Jadi lebih sering buang air kecil, terutama malam hari
Selain menyaring darah, ginjal juga membantu mengatur konsentrasi urine serta keseimbangan air dan garam. Ketika fungsi ini terganggu, sebagian orang dengan PGK mengalami perubahan frekuensi buang air kecil.
Perubahan frekuensi buang air kecil bisa menjadi salah satu gejala yang dapat muncul ketika PGK makin lanjut.
Salah satu bentuknya adalah nokturia, yaitu sering terbangun malam hari untuk buang air kecil.
Sebuah tinjauan sistematis menjelaskan bahwa penurunan fungsi ginjal dapat mengganggu pengaturan garam dan air sehingga meningkatkan produksi urine pada malam hari atau sepanjang hari. Nokturia bahkan dapat muncul sejak tahap awal PGK.
Namun, sering kencing pada malam hari juga bisa disebabkan oleh banyak hal lain, seperti minum sebelum tidur, diabetes, obat diuretik, gangguan kandung kemih, atau masalah prostat.
4. Urine mendadak jauh lebih sedikit
Produksi urine yang mendadak jauh lebih sedikit daripada biasanya atau bahkan tidak keluar juga perlu dicurigai, karena ini bisa menandakan gagal ginjal akut, yaitu penurunan fungsi ginjal yang berkembang dalam hitungan jam hingga hari.
Pada gagal ginjal yang sudah berat, seseorang juga dapat menghasilkan sangat sedikit atau tidak ada urine.
Namun, jumlah urine dipengaruhi pula oleh asupan cairan, banyaknya keringat, obat, serta kondisi tubuh lainnya.
Penurunan urine yang drastis—terutama jika disertai bengkak, sesak, mual, kebingungan, atau sakit berat—perlu segera dievaluasi oleh dokter.
5. Urine keruh atau berbau menyengat bukan tanda khas PGK
Urine keruh atau baunya berbeda bukan ciri khas PGK. Keluhan tersebut dapat terjadi pada infeksi saluran kemih atau infeksi ginjal. Infeksi ginjal juga dapat menyebabkan urine berdarah, sering atau nyeri saat buang air kecil, demam, menggigil, serta nyeri di punggung atau sisi tubuh.
Batu ginjal juga dapat menyebabkan urine berdarah, keruh, atau berbau tidak biasa, biasanya disertai nyeri tajam pada punggung, sisi tubuh, perut bawah, atau selangkangan.
Kalau mengalami gejala-gejala di atas, memang penyebabnya belum tentu PGK. Namun, sebaiknya tetap periksakan ke dokter.
Urine terlihat normal pun belum tentu ginjal baik-baik saja
Kerusakan ginjal dapat terjadi tanpa mengubah warna, bau, atau jumlah urine secara nyata. Karena itu, melihat urine setiap hari bukan metode skrining penyakit ginjal.
Rekomendasi para ahli adalah evaluasi PGK menggunakan dua komponen penting, yaitu pemeriksaan albumin dalam urine serta glomerular filtration rate (GFR) untuk menilai fungsi penyaringan ginjal.
Salah satu tes urine yang digunakan adalah urine albumin-to-creatinine ratio (UACR). Nilai lebih dari 30 mg/g dianggap abnormal dan, jika menetap, dapat menjadi tanda penyakit ginjal.
Karena itu, urine berbusa menetap, darah dalam urine, perubahan pola berkemih yang tidak biasa, atau penurunan jumlah urine sebaiknya tidak digunakan untuk mendiagnosis sendiri. Perubahan urine bisa menjadi petunjuk, tetapi pemeriksaan urine dan darah yang menentukan apakah ginjal benar-benar mengalami masalah.
Referensi
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “What Is Chronic Kidney Disease in Adults?,” diakses Agustus 2026.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Albuminuria: Albumin in the Urine,” diakses Agustus 2026.
Kyu Keun Kang, Jung Ran Choi, Ji Young Song, and Sung Wan Han, “Clinical Significance of Subjective Foamy Urine,” Chonnam Medical Journal 48, no. 3 (2012): 164–168, https://doi.org/10.4068/cmj.2012.48.3.164.
Zeid J. Khitan and Richard J. Glassock, “Foamy Urine: Is This a Sign of Kidney Disease?,” Clinical Journal of the American Society of Nephrology 14, no. 11 (2019): 1664–1666, https://doi.org/10.2215/CJN.06840619.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Hematuria (Blood in the Urine),” diakses Agustus 2026.
Eduardo Gutiérrez et al., “Chronic Kidney Disease Progression in Glomerular Diseases: Is Hematuria a Key Risk Factor?,” Pediatric Nephrology (2026), https://doi.org/10.1007/s00467-026-07201-0.
Alex Ridgway et al., “Nocturia and Chronic Kidney Disease: Systematic Review and Nominal Group Technique Consensus on Primary Care Assessment and Treatment,” European Urology Focus 8, no. 1 (2022): 18–25, https://doi.org/10.1016/j.euf.2021.12.010.
National Kidney Foundation, “Acute Kidney Injury (AKI): Causes, Symptoms, and Treatment,” diakses Agustus 2026.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “What Is Kidney Failure?,” diakses Agustus 2026.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “The Urinary Tract & How It Works,” diakses Agustus 2026.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Symptoms & Causes of Kidney Infection (Pyelonephritis),” diakses Agustus 2026.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Symptoms & Causes of Kidney Stones,” diakses Agustus 2026.
Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO), "KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease, Kidney International 105," suppl. 4S (2024).












.jpg)











