ISLAM ADALAH CITA-CITA, BUKAN IDENTITAS
ARTEESID.COM - Setiap kali saya bertanya tentang apa itu Islam ? Bapak (alm) selalu menjawabnya “ISLAM itu Isya, Subuh, Lohor (Dzhuhur dalam bahasa Sunda), Ashar dan Maghrib” jawaban itu cukup memuaskan saya di usia 10 tahun. Kesimpulan saya berarti Islam itu adalah mereka yang melaksanakan sholat 5 waktu, sambil muncul pertanyaan selanjutnya dalam hati kenapa dimulai dari huruf I ? Kenapa bukan S ?, jadi kan bisa dimulai dari sholat Subuh sama seperti mengawali hari. Ah itu hanya pertanyaan anak usia 10 tahun….saat itu. Dan penjelasan akronim ini tidak cocok lagi sejak saya tahu bahwa yang betul itu Dzuhur bukan Lohor..masa nama agamanya jadi ISDAM.
Agama yang dibawa Muhammad tidaklah diperkenalkan seperti ini : “Wahai kaum Quraisy, aku membawa sebuah agama baru namanya agama Islam, kitabnya bernama Al Qur’an, tata cara ibadahnya adalah membaca syahadat, melaksanakan sholat, membayar zakat, melaksanakan puasa, dan ibadah haji, maukah kalian memeluk agama ini ?” tidak, saya yakin tidak begitu iklannya… bila itu yang disampaikan sudah pasti ada yang mengangkat tangan “ Maaf Muhammad, itu bukan sesuatu yang baru ! bukankah nabi-nabi yang sebelumnya juga mengajarkan itu ?…kami sudah tahu !” lalu kata Muhammad “ Engga, yang ini beda ! sholatnya 5 waktu, puasanya ada yang Wajib ada yang Sunnah, ibadah haji bila mampu…dst” Salah…tidak demikian adanya. Ibadah haji sudah dilakukan sejak lama, Ibrahim membangun Ka’bah, Ismail melanjutkannya, Muhammad lahir Ka’bahnya sudah ada dan perintah sholat 5 waktu baru turun saat perjalanan Isra Mi’raj...jauh setelah Islam berkembang di Madinah.
Sesungguhnya Muhammad SAW menawarkan pada kaum Quraisy untuk menggunakan konsep Ilahiah (yang datang dari Allah) sebagai konsep hidup, atau cara hidup, atau pedoman hidup, yang akan membawa pada keselamatan dan kesejahteraan dunia dan akhirat. Keselamatan dan kesejahteraan itu adalah makna SALAM. SALAM inilah yang menjadi tujuan, selamat dan sejahteralah yang ingin dicapai, saya lebih suka menyebutnya cita-cita. Dan cara agar bisa selamat adalah dengan berserah diri (ASLAMA) yang artinya tunduk, patuh, mau, bersedia tanpa syarat menggunakan konsep Ilahiah itu. Maka kemudian dikenallah konsep ISLAM ini.
Muhammad berani menghadapi segala tantangan demi mewujudkan cita-cita ISLAM. Cita-cita yang lantas dijabarkan sebagai kehidupan MADANI, seperti apa itu ? pertama masyarakatnya taat dan sadar hukum, lalu yang kaya bantu yang miskin, yang miskin diajak untuk selalu berusaha keluar dari kemiskinannya, pendidikan ditingkatkan, kesehatan dijaga, hukum ditegakkan, pemimpinnya adil, rakyatnya bela negara, sesama rakyatnya saling jaga, lingkungan dimuliakan maka disebutnyalah “tanah suci” tak boleh dirusak, itu semua diwujudkan Muhammad di MADINAH yang kemudian meluas dan mendunia. Di zaman keemasannya bermunculan para penemu yang mengembangkan berbagai keilmuan dan pengetahuan. Kenapa bisa begitu ? ya karena ISLAM adalah cita-cita. Cita-citanya adalah terwujudnya sebuah peradaban manusia yang harmonis untuk menjaga kehidupan yang telah diciptakan “Sang Maha”.
Kehidupan siapa ? ya kehidupan SEMUA yang diciptakanNya. Kata SEMUA yang dimaksud bukan menjadikan penghuni muka bumi satu golongan saja, karena Allah justru dengan sengaja membuat kita beraneka ragam.
Mereka yang selama ini dengan bangga menyebut dirinya ISLAM lalu bersuka ria dan menyerukan “ini adalah kemenangan Islam” sepertinya kalian harus cek, apa sebenarnya yang berhasil dimenangkan ? Apakah sudah sesuai dengan ‘cita-cita Islam’ yang saya jelaskan di atas ? atau kalian hanya sedang bergelut dengan perjuangan identitas saja.
Apa saja ciri identitas ? Semua yang kasat mata itulah identitas. Pakaian harus sama seperti yang dipakai di zaman Rasul, penampilan juga, maka tumbuhkan janggut yang lebat, yang bulu janggutnya dikit dipaksain, dipanjangin !. Istri tambahin, minimal 4. Semua ucapan salam, do’a, pakai Bahasa Arab…sepertinya Tuhan butuh penerjemah. Semua hal dilabeli syari’ah. Stempel HALAL bahkan ditempelkan tak hanya pada makanan. Tiba-tiba saja ISLAM menjadi sangat ‘berbeda’. Apakah kebangkitan Islam seperti ini ? Atau ini hanya kegalauan dan krisis identitas karena kita sudah tertinggal dalam segala hal…karena kita sudah terlalu sering KALAH berabad-abad lamanya. Biasanya nih ya orang Kalah itu bisanya cuma pasrah atau marah, tersinggung sedikit bisa ngamuk.…ga semua lah ada juga yang Kalah lalu bunuh diri…#eh..ya betul, bunuh diri pakai bom bikinan sendiri.
Di saat mereka yang berpakaian dan bersorban serba putih menyerang warteg di bulan Ramadhan, di TV saya menyaksikan di belahan dunia lain orang2 yang disebut ‘kafir’ sedang bertungkus lumus menyelamatkan nyawa seekor kucing yang kejepit di selokan. Di saat kalian berderet menggunakan jaring ikan di pinggir jalan meminta sumbangan pada kendaraan yang lewat untuk bangun masjid, di berita para pejabat yang KTP nya beragama Islam, bahkan partainya pun berazas Islam sedang tersenyum dengan tangan diborgol KPK. Di saat kalian sedang bersemangat menyerukan ‘kebangkitan Islam’ di jalanan berulang kali, di kala itu saya sedang kagum pada mereka yang lagi sibuk memikirkan bahaya bumi yang semakin panas, energy fosil akan habis, lalu mencari solusi dari energy ciptaan Tuhan lainnya. Kadang saya sering bertanya dalam hati…bila cita-cita Islam adalah membangun peradaban manusia, sepertinya orang2 ‘kafir’ itu lebih paham cita-cita Islam ini…lalu saya tarik nafas panjang, saya hembuskan perlahan..baru bisa tidur .
Saya teringat perjuangan para Wali menyebarkan Islam di Indonesia ini. Mereka paham bukan menyebarkan ‘pakaian’ atau Identitas Islam tapi cita-citanya. Maka ‘pakaian’ pun di sesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. Jadilah peci, sarung, kerudung, baju koko, tahlilan, yasinan, dsb…identitas ini bisa berubah, sekarang pakai peci dan sarung besok bisa saja paki jas dan dasi…itu hanya pakaian. Cita-citanya yang penting !
Tunggu, bagaimana dengan saudara ‘sesama Muslim’ yang ditindas di Negara lain ? apakah kita diam saja ? tentu saja tidak ! tapi sekali lagi itu karena kita semua berpikir tentang identitas. Yang kita bela disana bukan karena mereka ‘seiman’ tapi harus karena ‘kemanusiaan’. Bila ada umat agama lain yang jumlahnya minoritas ditindas dengan demikian tidak perlu kita bela ? Oh…Islam menyedihkan jika demikian. ISLAM menjadi ‘kerdil’ dan semakin jauh dari cita-cita dan tujuan diturunkannya.
Wahai para pejuang yang menyebut dirinya Mujahid, pahamilah ‘cita-cita ISLAM’ ini. Jadi yang disebut Muslim adalah yang memperjuangkan terwujudnya cita-cita Islam bukan memperjuangkan Identitas Islam. “Betul itu, tapi mulainya dari identitas Islam !” ada yang bilang begitu. Saya yakin bukan, karena justru identitaslah yang sering memicu konflik. Ke-Islam-an itu ada di dalam bukan di permukaan. Cita-cita Islam lah yang seharusnya tampil di permukaan.
Ini bukan soal memegang kekuasaan, bukan soal siapa lebih mulia, bukan soal siapa yang berhak masuk sorga. Ini soal bagaimana membangun kehidupan yang damai dan sejahtera, bagaimana menjaga ‘warisan’ bumi dan segala isinya untuk terus kita wariskan lagi pada manusia-manusia pewarisnya, Islam seharusnya membuat seluruh manusia BERSATU, BAHAGIA, dan ABADI. Dibangunnya di Dunia bukan di Sorga. Sorga itu BONUS dari Sang Pencipta. Kalau dunia ini gagal kita bangun, manusianya saling cemooh, saling bunuh, alamnya rusak, hancur lebur, apakah kita layak dapat Sorga ?
By: D.Rodendo
Sumber : FB Slamet Rahmat













