Lontong tetel jadi kuliner baru di Dieng, ada kuah cabai gendot, hasil resep warisan ibu
ARTEESID.COM - Udara dingin khas dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, membuat sajian berkuah panas menjadi pilihan yang menggoda untuk menghangatkan tubuh.
Bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke kawasan Dieng, ada pilihan kuliner yang bisa dicoba, yakni lontong tetel.
Kuliner ini menawarkan semangkuk lontong dengan potongan daging sapi dan balungan yang disiram kuah santan panas dengan cita rasa gurih dan creamy.
Kuah tersebut berpadu dengan rempah dan disajikan panas-panas hingga uapnya mengepul dari dalam mangkuk.
Bagi penyuka makanan pedas, tersedia pula kuah merah dengan sensasi cabai yang lebih menggigit.
Khusus di cabang Dieng, pengunjung juga bisa memilih cabai gendot yang memberikan sensasi pedas khas sekaligus memperkuat cita rasa lokal.
Perpaduan kuah panas dan udara dingin Dieng menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Seperti yang dirasakan Novi, pengunjung yang baru pertama kali mencicipi lontong tetel.
Menurut Novi, kuah santan yang creamy tetap terasa segar ketika disantap. Sementara potongan dagingnya juga mudah dinikmati.
“Rasanya kuahnya creamy jadi segar. Walaupun creamy tapi tetep seger."
"Dagingnya juga langsung bisa ditetel. Saya baru pertama kali,” ujar Novi, Minggu (4/10/2026).
Menurutnya, menyantap makanan berkuah panas di tengah dinginnya udara Dieng menjadi perpaduan yang pas.
“Karena di sini dingin, jadi makan lontong tetel yang berkuah ini jadi perpaduannya pas, cocok,” katanya.
Bisa Lihat Langsung Proses Penyajian
Tak hanya mengandalkan rasa, lontong tetel di Dieng juga menawarkan pengalaman makan melalui konsep tempat yang mengusung open kitchen.
Pelanggan dapat melihat langsung proses penyajian dari balik kaca.
Potongan lontong dan isian daging terlebih dahulu disiapkan di dalam mangkuk.
Setelah itu, kuah santan panas disiramkan hingga uapnya mengepul ketika mangkuk dihidangkan ke meja pelanggan.
Lontong tetel juga dapat dinikmati bersama sejumlah menu pendamping seperti tempe kemul, geblek, dan kerupuk.
Untuk minuman, tersedia carica yang merupakan salah satu minuman khas Dieng.
Minuman tersebut bisa menjadi pilihan setelah menyantap kuah gurih maupun pedas.
Resep Warisan Ibu
Di balik hadirnya lontong tetel di Dieng, terdapat cerita keluarga yang menjadi bagian penting dari kuliner tersebut.
Pemilik lontong tetel, Istiana Yudha Pratama mengatakan, resep yang digunakan merupakan warisan dari mendiang ibunya, Sunarti.
Resep tersebut diajarkan sang ibu kepada anak-anaknya, termasuk kemampuan memasak yang kemudian menjadi bekal hingga lontong tetel berkembang seperti sekarang.
“Dari ibu lahir sebuah rasa. Namanya Sunarti. Beliau yang mewariskan sebuah resep yang hari ini resepnya ingin dikenang dan rasanya selalu terus ingin juga dikenang,” ujar Istiana.
Menurut Istiana, lontong tetel cocok hadir di wilayah dengan udara dingin seperti Dieng.
“Dieng cenderungnya dingin, perlu makanan yang hangat, makanan yang bisa membuat kehangatan di tubuh, dengan kuah yang kemlecer,” katanya.
Dia mengatakan, wisatawan yang datang ke Dieng tidak hanya membutuhkan destinasi wisata, tetapi juga beragam pilihan kuliner.
Selama ini, Dieng dan kawasan Wonosobo telah dikenal dengan sejumlah kuliner seperti mie ongklok, tempe kemul, megono, dan geblek.
Kini, lontong tetel hadir untuk menambah pilihan kuliner bagi wisatawan.
“Kami ingin keragaman kuliner ini makin lengkap,” ujar Istiana.
Dia berharap, keberadaan lontong tetel di Dieng dapat membuat wisatawan memiliki lebih banyak pilihan makanan sekaligus mendorong mereka memperpanjang waktu tinggal di kawasan tersebut.
Buka hingga Pukul 22.00
Lontong tetel Dieng buka setiap hari mulai pukul 06.30 hingga pukul 22.00.
Waktu tersebut memungkinkan wisatawan datang setelah menikmati matahari terbit maupun pada malam hari ketika suhu Dieng semakin dingin.
“Biasanya setelah sunrise itu turun pukul 06.00, 06.30 langsung bisa ke lontong tetel."
"Bahkan yang malam untuk menghangatkan badan, nanti bisa makan yang berkuah-kuah, baik yang tidak pedas maupun pedas, sampai pukul 22.00,” ujar Istiana.
Selain menu reguler, lontong tetel juga menyiapkan menu khusus pada momentum tertentu.
Saat Ramadan, misalnya, tersedia sajian spesial menggunakan daging onta.
Sementara bahan sayur dan daging yang digunakan juga disiapkan dengan mengangkat bahan pangan dari kawasan Dieng.
Lokasi lontong tetel berada di Dieng Kulon, Banjarnegara, tepat di depan Musala As-Shofiyah.
Lokasinya sekira 200 meter arah Banjarnegara dari titik 0 Dieng.
Di tengah dinginnya udara dataran tinggi, semangkuk lontong tetel panas kini bisa menjadi pilihan kuliner bagi wisatawan yang ingin menghangatkan badan sekaligus mencicipi sajian dengan resep warisan keluarga.












